biru

Kamis, 28 November 2013

Makalah Tari Penyambutan Tamu

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
                Kebudayaan  ialah  salah satu aspek yang terpenting dalam kehidupan manusia. Salah satu unsur kebudayaan yaitu Kesenian. Kesenian pada masyarakat Jawa, Kalimantan, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara merupakan satu kompleks unsur yang tampak amat digemari oleh warga masyarakatnya, sehingga tampak seolah-olah mendominasi seluruh kehidupan masyarakatnya. Seni tari penyambutan tamu pada daerah-daerah tersebut  ialah salah satu asset yang dimiliki oleh masyarakat itu karena merupakan seni tari yang khas dan asli dari daerah tersebut. Oleh karena itu, dalam makalah ini saya ingin mengulas mengenai tari-tari penyambutan tamu supaya dapat bermanfaat bagi masyarakat yang masih kurang menaruh perhatian terhadap kebudayaan tradisional tersebut.
1.2  Rumusan Masalah
 Makalah  ini membahas tentang beberapa hal penting yang perlu diketahui. Cakupan materi yang akan dipelajari dalam makalah ini meliputi : tari remo dari Jawa Timur, tari Gending Sriwijaya dari Sumatera, Tarian Mappakaraja dari Kalimantan, Tari Kataga dari Nusa Tenggara dan Tari Pendet dari Bali.
C.  Tujuan
 Untuk lebih mengetahui tari remo dari Jawa Timur, tari Gending Sriwijaya dari Sumatera, Tarian Mappakaraja dari Kalimantan, Tari Kataga dari Nusa Tenggara dan Tari Pendet dari Bali.
D.  Manfaat
  1. Dapat memberikan inspirasi tentang betapa pentingnya melestarikan seni tradisional bagi generasi muda.
  2. Menumbuhkan rasa cinta bagi seluruh generasi muda di Indonesia terhadap kesenian tari penyambutan tamu dari berbagai daerah.

BAB II
PEMBAHASAN
 2.1 TARI REMO
Pengertian Tari Remo
 Tari Remo adalah salah satu tarian untuk penyambutan tamu agung, yang ditampilkan baik oleh satu atau banyak penari. Tarian ini berasal dari Provinsi Jawa Timur.
 Asal – usul Tari  Remo
Tari Remo berasal dari Jombang, Jawa Timur. Tarian ini pada   awalnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar pertunjukan ludruk. Namun, pada perkembangannya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan atas tamu kenegaraan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah. Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih sering ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan.
Alat Musik Tari Remo
Tarian ini diiringi oleh alat-alat musik yang unik yang membuat sebuah seni tari menjadi indah untuk dilihat. Tari Remo ini diiringi oleh alat-alat seperti:
  • Gending
  • Gender
  • Gambang
  • Seruling
  • Kenong
  • Slentem/span>
  • Kempul
  • Gong
Biasanya tarian ini menggunakan irama Suroboyo teropongan atau juga dengan gedong rancak, krucilan, dan juga walang kekek. Tarian ini diperagakan oleh wanita atau laki-laki yang dimainkan secara bersamaan atau juga bergantian.
Tata Busana
             Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya:   Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan
Macam – macam Busana Tari Remo

        a) Busana gaya Surabayan

Terdiri atas ikat kepala merah, baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris menyelip di belakang. Penari memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang dan yang lain disematkan di bahu, dengan masing-masing tangan penari memegang masing-masing ujung selendang.
Selain itu, terdapat pula gelang kaki berupa kumpulan lonceng yang dilingkarkan di pergelangan kaki.

    b)  Busana Gaya Sawunggaling

Pada dasarnya busana yang dipakai sama dengan gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni penggunaan kaus putih berlengan panjang sebagai ganti dari baju hitam kerajaan

     c)  Busana Gaya Malann

Busana gaya Malangan pada dasarnya juga sama dengan busana gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni pada celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki serta tidak disemat dengan jarum.


       d)  Busana Gaya Jombangan
Busana gaya Jombangan pada dasarnya sama dengan gaya Sawunggaling, namun perbedaannya adalah penari tidak menggunakan kaus tetapi menggunakan rompi.

       e)  Busana Remo Putri

Remo Putri mempunyai busana yang berbeda dengan gaya remo yang asli. Penari memakai sanggul, memakai mekak hitam untuk menutup bagian dada, memakai rapak untuk menutup bagian pinggang sampai ke lutut, serta hanya menggunakan satu selendang saja yang disemat di bahu.
Pengiring
          Musik yang mengiringi Tari Remo ini adalah gamelan, yang biasanya terdiri atas bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Adapun jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli dan Tropongan, namun dapat pula berupa gending Walangkekek, Gedok Rancak, Krucilan atau gending-gending kreasi baru. Dalam pertunjukan ludruk, penari biasanya menyelakan sebuah lagu di tengah-tengah tariannya.

Properti yang digunakan dalam tari remo yaitu sabuk dan keris yang dipakai di pinggang serta dipaha kanan ada slendang yang menggantung sampai kemata kaki bagi penari perempuan memakai simpul (sanggul) dirambutnya.

2.2  TARI GENDING SRIWIJAYA
   Gending Sriwijaya merupakan lagu dan tarian tradisional masyarakat Kota Palembang, Sumatera Selatan. Melodi lagu Gending Sriwijaya diperdengarkan untuk mengiringi Tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara.

   Tari ini ditampilkan secara khusus untuk menyambut tamu-tamu agung seperti kepala Negara, Duta Besar dan Tamu-tamu agung lainnya.

Jenis musik tarian itu terdiri dari gamelan dan gong

Busana Dan tata rias
    Tata busana yang digunakan dalam pertunjukan tari tanggai ada empat macam yaitu:
  • · Aesan gede
  • · Selendang mantra
  • · Aesan dodot
  • · Aesan pak sangkong
Tapi pada saat sekarang busana yang digunakan pada tari tanggai dalam menari selalu di perhatikan situasi dan kondisinya waktu dimana  tari tanggai dipertunjukan misalnya dlam acara resepsi pernikahan ,penari yadak boleh memakai aesan gede karena sana penganten telah memakai aesan gede,tetapi sang penari harus menggunakan aesa mantra,dodot dan pak sangkong .sedangakan motif songket yang di gunakan pada tari tanggai yaitu motif songketlimar,sedangkan untuk songket pengantin menggunakan motif somgket lepus(emas).Untuk lebih jelasnya  pembagian tata busana dalam tari tanggai adalah sebagai berikut:
·         Aesan Gede
-           Sewet songket
-          Kemben songket
-           Kasuhun
-          Sumoing
-          Sundur
-          Cempako
-          Gelang malang
-          Kecak bah
-          Gelang kano
-          Suri/sisir
-          Kalung kebo mungga
-          Tertai
-          Selempang
-          Pending
-           Kembang urai
-          Gelang sempuru
-          Galang gepeng
·         Selendang manrti(aesan gandik)
-           Gandik
-          Sumping
-          Gelang malang
-           Sundur
-          Suri/sisir
-          Sewet somgket
-           Selendana
-          Teratai
-          Kalung kebo mungga
-           Gekang kano
-           Gepeng sempuru
-           Kembang  sempuru
-          Kembang songket

·         Aesam pak sangkong
-           Sewet songket
-          Baju kirung belutdru
-          Teratai
-          Gelang
-          Pak sangkong
-          Sumping
-          Kelapo setandan
-          Gelung malang
-          Selendang
-          Gelang gepeng
-          Gelang sempuru
-          Suri/sisir
-          Cempako
-          Sundur
-          Bunga uarai
-          Kalung kebo mungga

·         Aesa dodot terdiri dari
-          Sewet songket
-          Kemben songket
-          Teratai
-          Selempamg
-          Gelang sempuru
-          Gelang kano
-          Cempako
-          Sumping
-          Gelang gepeng
-          Gelung malang
-          Pending
-          Sundur
-          Bunga urai
-          Kalung kebo munggah

Penari Gending Sriwijaya seluruhnya berjumlah 13 orang
Jumlah penarinya da 13 dikarenakan terdiri dari :
  • Satu orang penari utama pembawa tepak (tepak, kapur, sirih).
  • Dua orang penari pembawa peridon (perlengkapan tepak)
  • Enam orang penari pendamping (tiga dikanan dan tiga kiri)
  • Satu orang pembawa payung kebesaran (dibawa oleh pria)
  • Satu orang penyanyi Gending Sriwijaya
  •  Dua orang pembawa tombak (pria)
Jadi pada tari tanggai ini properti yang digunakan pada tari ini yaitu: Tepak
 2.3  TARIAN MAPPAKARAJA, TARIAN UNTUK MENYAMBUT TAMU
 sebuah tarian Khas Bugis Pagatan yang biasanya dilakukan untuk menyambut tamu istimewa atau saat perayaan hari besar. Tarian Mappakaraja sebuah tarian yang biasa di dedikasi oleh remaja ceria yang merupakan bukti kalau masyarakat Tanah Bumbu menghormati tamu. “Mungkin beberapa orang tidak mengerti tarian ini dikarenakan mereka tidak interest  dengan kesenian ini itu sebabnya seni ini perlahan lahan harus di kembangkan kalau perlu diadakan Parade Budaya agar kesenian ini  dapat ter-ekspose dan dikenali orang-orang ”.

Tarian yang dimainkan 6 atau lebih remaja putri dengan lenggak lenggok membawa sebuah mangkok yang berisi bunga dengan maksud untuk memberikan sambutan atau menghormati tamu yang datang. Iringan musik yang seolah olah bercerita kalau di Bumi Bersujud ini mayoritas petani dan nelayan membuat sesaat sebelum Tarian Mappakaraja menjadi sepi.

Jenis Musik
Gamelan dan Gong

 Kostum
Terserah sanggar penari, ada yang pakai kerudung ada yang tidak, kalau tidak pakai kerudung maka dikepala diletakkan mahkota dan bunga, busana yang pakai kerudung baju tangan panjang dan rok panjang, ditambah hiasan dipinggang. Busana yang tidak pakai kerudung baju tangan pendek menutupi pantat dan pakai rok panjang.
Property :  piring yang berisikan bunga.

2.4   TARIAN DARI KABUPATEN SUMBA TENGAH (NUSA TENGGARA)

Tari Kataga
Pada jaman dahulu tari kataga merupakan tarian penyambutan pahlawan yang pulang dari medan perang yang dilakukan oleh sekelompok pria dengan menggunakan parang, tameng berbalutan kain adat dengan cara berbanjar. Namun pada saat ini tari Kataga sering di pertunjukkan dalam acara-acara penyambutan tamu agung atau pejabat ataupun pada acara khusus seperti nikah dan lain-lain, dalam tarian ini terdapat pekikan khas (pakalak) untuk membangkitkan semangat.
Jenis musik : gong dan gamelan
Penarinya terdiri dari 2 perempuan dan 10 laki-laki
Pakaian penari laki-laki terdiri atas : celana pendek, selendang, topi yang berhias kain menjuntai
Pakaian wanita : Kain hitam yang menutupi dari dada sampai kaki. Selendang diikat di pinggang dan ikat kepala.

2.5  TARI PENDET CIRI KHAS BALI

Tari Pendet adalah salah satu jenis tarian yang berasal dari Bali. Mulanya, tarian ini dianggap sakral dan religius karena hanya ditampilkan dalam proses pemujaan di pura, tempat beribadah umat Hindu. Tari Pendet menggambarkan penyambutan dewata yang turun ke dunia.
Semula, tari ini disebut mamendet, namun dalam perkembangannya, nama tari Pendet diubah oleh para seniman menjadi “ucapan selamat datang”. Tari Pendet sendiri menjadi tarian yang dipersembahkan dan dikemas dalam bentuk tarian upacara.
Berbeda dengan tarian sakral lainnya, tari Pendet dapat dilakukan semua orang, semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Tidak ada batasan syarat dan umur untuk menarikan tarian ini. Jika ingin belajar tari Pendet pun waktu yang dibutuhkan tidak lama.
Ketika menari, maka penari yang masih muda akan mengikuti gerakan penari di depan mereka yang sudah mahir. Penari yang memiliki kemampuan lebih tersebut menjadi contoh dan memiliki tanggung jawab sepanjang jalannya proses menari.
Tari Pendet menceritakan dewi-dewi yang turun dari kahyangan. Tarian ini biasanya dimainkan oleh wanita atau secara berkelompok. Pada prosesi upacara, tari Pendet ditampilkan setelah tari Rejang.
Tari Pendet dilakukan menggunakan berbagai atribut upacara keagamaan yang biasa digunakan di Bali, seperti kendi, cawan, dan tempat air yang suci (sangku). Untuk menyambut tamu yang datang, ketika tari Pendet dilakukan, bunga-bunga ditaburkan di depan tamu.

Jenis Musik Tari Pendet

Untuk menghidupkan suasana dan menarik penonton, alunan musik diperlukan dalam pementasan. Alat musik yang digunakan dalam tari Pendet biasanya satu perangkat alat gamelan Bali. Namun iringannya tidak hanya terpaku pada satu jenis alat musik saja. Alat musik tradisional lain seperti gong dan gamelan angklung dapat dikombinasikan
Durasi tari Pendet yang biasa ditampilkan kurang lebih delapan menit. Lagu yang mengiringi tarian ini pun disesuaikan dengan gerakan, jika gerakan cepat, maka tempo lagu menjadi cepat, begitu pula sebaliknya.
Tempo lagu yang lambat biasanya digunakan ketika sang penari melakukan gerakan duduk sebelum akhirnya menaburkan bunga di awal tarian. Tempo lagu sedang juga digunakan ketika pergantian arah gerak maupun arah hadap.

Busana Penari Tari Pendet

Ketika menampilkan tari Pendet, tentu saja pakaian menjadi hal yang tidak boleh dilupakan. Busana tarian ini memang dibuat untuk memikat perhatian penonton. Pakaian yang biasanya dipakai dalam pementasan terdiri dari tapih dengan motif tertentu, kamen, selendang yang dililitkan, dan ankin.
Selain itu, perlengkapan yang mendukung tarian juga harus ada. Biasanya digunakan bokor dengan hiasan ornamen daun kelapa yang masih muda (janur) dengan ditambah hiasan motif-motif potongan sesuai selera.
Properti :
1.      Bunga grengseng,dan hidup
2.      Antol
3.      Subeng
4.      Tutup dada
5.      Sabuk perada
6.      Kamen perada
















BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat diketahui mengenai keunikan tari-tari penyambutan tamu yang telah dikaji, diantaranya ialah pengertian, asal-usul, tata gerak dan macam-macam busana tari penyambutan tamu dari daerah masing-masing. Begitu pentingnya kesenian tradisional tari penyambutan tamu bagi generasi muda. Sehingga, alangkah  baiknya apabila kita menjaga kekayaan bangsa Indonesia, dan menjunjunganya hingga ke kancah internasional sebagai wujud rasa cinta dan kebanggaan terhadap kesenian tradisioanal kita.
Yang membuat jenis tarian diatas itu berbeda padahal tarian itu sama-sama tarian penyambutan tamu karena Setiap daerah memiliki keunikan masing-masing, Tiap jenis tari memiliki bentuk rias dan busana yang berbeda-beda,sesuai sifatnya. Tata rias dan busana tari diatas juga berbeda-beda itu berfungsi untuk memperindah penampilan penari/membedakan tari suatu daerah dengan daerah lain.
Keragaman tari-tarian diatas menjadi salah satu kekayaan Nusantara. Jenis tari penyambutan tamu disetiap daerah mempunyai fungsi sesuai dengan pola kehidupan masyarakat daerah tersebut.
Kita sebagai generasi penerus bangsa yang menjadi ujung tombak pelestarian semua tradisi kebudayaan tersebut, kalau tidak kita siapa lagi yang akan mempertahankannya??  Jangan sampai tari penyambutan tamu kebanggaan masyarakat didaerahnya masing-masing digantikan oleh tarian asing ala Korea seperti Gangnam Style, kalau itu sampai terjadi, di mana lagi kebanggaan kita sebagai orang Indonesia???, sebagai orang Indonesia yang katanya kaya akan tradisi dan kebudayaan tradisional??
3.2  KRITIK DAN SARAN
           Saya sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah, oleh karena itu saya mohon kritik dan saran dari para pembaca untuk kesempurnaan makalah ini.